Dakwah multikultural

 

MINI BOOK

 

“Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya”

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Dosen Pengampu:

Abu Amar Bustomi,M.Si

 

Disusun Oleh:

Laila Anindhita Abidah

(B71219064)

 

 

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM

 

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

 

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2020

KATA PENGANTAR

 

          Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT, karena rahmat dan hidayah-Nya makalah ini bisa terselesaikan.  Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabat beliau.

 

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Abu Amar Bustomi, M.Si,selaku dosen mata kuliah dakwah multikultural dan komunikasi lintas budaya, yang telah memberi pengarahan dalam penyusunan mini book ini. dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu selama proses pembuatan mini book ini.

 

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam mini book ini. Karena itu, kritik dan saran yang membangun senantiasa penulis harapkan demi perbaikan mini book ini.Semoga mini book ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

 

Surabaya, 27 Juni 2021

 

 

 

Laila Anindhita

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

A.Pengertian Dakwah Multikultural

jika dilihat dari segi bahasa (etimologi), maka dakwah dapat berarti memanggil, mengundang, mengajak, menyeru, mendorong ataupun memohon. Dalam ilmu tata bahasa Arab, kata dakwah merupakan bentuk mashdar dari kata kerja da’a, yad’u, da’watan, yang berarti memanggil, menyeru, atau mengajak.

Istilah dakwah dalam Al-Qur’an diungkapkan dalam bentuk fi’ilmaupun mashdarsebanyak lebih dari seratus kata. Al-Qur’an menggunakan kata dakwah untuk mengajak kepada kebaikan yang disertai dengan risiko masing-masing pilihan. Dalam Al-Qur’an, dakwah dalam arti mengajak ditemukan sebanyak 46 kali, 39 kali dalam arti mengajak kepada Islam dan kebaikan, dan 7 kali mengajak ke neraka atau kejahatan. Di samping itu, banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan istilah dakwah dalam konteks yang berbeda.[1]

Sedangkan secara istilah, para ahli memiliki tafsiran yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang mereka di dalam memberikan pengertian dakwah. Sementara multikultural, secara sederhana dapat dikatakan sebagai pengakuan atas adanya pluralitas budaya. Multikultural yang menjadi paham multikulturalisme pada hakikatnya mengakui akan martabat manusia yang hidup di dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing yang spesifik. Dengan demikian, setiap individu merasa dihargai dan sejalan dengan itu pula merasa bertanggung jawab untuk hidup bersama di dalam komunitasnya. Pengingkaran suatu masyarakat terhadap kebutuhan untuk diakui (needs for recognition) merupakan akar dari ketimpangan-ketimpangan dalam berbagai bidang kehidupan.[2]

 

 

 

B.Ruang Lingkup Dakwah Multikultural

Ruang Lingkup Dakwah Multikultural Ruang lingkup kajian Dakwah Multikultural yang juga merupakan bidang dari kajian ilmu dakwah antara lain sebagai berikut :[3]

Pertama, mengkaji dasar-dasar tentang adanya interaksi simbolik da’í dengan mad’u yang berbedalatar belakang budaya yang dimilikinya dalam rentangan perjalanan dakwah para da’i, nabi dan Rasul termasuk nabi yang terakhir dan hukti kehadiran Islam di Indonesia adalah sebagai produk dari kegiatan Dakwah Multikultural.

Kedua, menelaah unsur-unsur dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan unsur da’i, pesan, dakwah, metode, media, mad’u dan dimensi ruang dan waktu yang mewadahi keberlangsungan interaksi antarberbagai unsur dalam keberlangsungan dakwah.

Ketiga,mengkaji tentang karakteristik manusia baik posisinya yang menjadi da’i maupun yang menjadi mad’u melalui kerangka metodologi dalam antropologi.

Keempat, mengkaji tentang upaya dakwah yang dilakukan oleh masing-masing etnik dan antaretnik, baik lokal-nasional, regional maupun internasional.

Kelima, mengkaji problem yang ditimbulkan oleh pertukaran antarbudaya dan upaya-upaya solusi yang dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi jati diri budaya masing-masing.

C. Basis Dan Pendekatan Dakwah Multikultural

Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, multikultural merujuk kepada konsep kebinekaan yang bersifat multi dimensi yang meliputi aspek bahasa, warna kulit, budaya, suku, etnis, bangsa, dan agama. Bila merujuk kepada Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa fakta multikultural umat manusia merupakan kehendak sekaligus sunnatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah. Kita dapat melihat beberapa ayat berikut, sebagai basis dakwah multikultural. QS. Al-Hujarat: 13 “Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal”.[4]

 Penggalan pertama ayat di atas sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan adalah pengantar untuk menegaskan bahwa semua manusia derajat kemanusiaannya sama di sisi Allah, tidak ada perbedaan antara satu suku dengan yang lain. Tidak ada juga berbedaan pada nilai kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan karena semua diciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Pengantar tersebut mengantar pada kesimpulan yang disebut oleh penggalan terakhir ayat ini yakni “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa”. Karena itu berusahalah untuk meningkatkan ketakwaan agar menjadi yang termulia di sisi Allah.Selanjutnya kata ta’arafu terambil dari kata ‘arafa yang berarti mengenal. Patron kata yang digunakan ayat ini mengandung makna timbal balik, dengan demikian ia berarti saling mengenal. Semakin kuat pengenalan satu pihak kepada selainnya, semakin terbuka peluang untuk saling memberi manfaat. Karena itu, ayat di atas menekankan perlunya saling-mengenal. Perkenalan itu dibutuhkan untuk saling menarik pelajaran dan pengalaman pihak lain, gu na meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt yang dampaknya tercermin pada kedamaian dan kesejahteraan hidup duniawi dan kebahagiaan ukhrawi. Anda tidak dapat menarik pelajaran, tidak dapat saling melengkapi dan menarik manfaat bahkan tidak dapat bekerja sama tanpa saling kenal-mengenal.Secara global, ayat ini ditujukan kepada umat manusia seluruhnya, tak hanya kaum muslim. Sebagai manusia, ia diturunkan dari sepasang suami-istri. Suku, ras dan bangsa mereka merupakan nama-nama untuk memudahkan saja, sehingga dengan itu kita dapat mengenali perbedaan sifat-sifat tertentu. Dihadapan Allah mereka semua satu, dan yang paling mulia ialah yang paling bertakwa. Allah Swt menciptakan manusia berbeda-beda suku, ras, dan bangsanya supaya saling mengenal. Melalui perkenalan itu mereka saling belajar, saling memahami, saling mengerti dan saling memperoleh manfaat, baik moril maupun materiil. Perkenalan itu niscaya menginspirasi semua pihak untuk menjadi lebih baik dari yang lain dan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

dakwah multikultural mengajukan lima macam pendekatan:[5]

Pertama, berbeda dengan dakwah konvensional yang menempatkan konversi iman sebagai bagian inti dari dakwah, pendekatan dakwah multikultural menilai bahwa dakwah tidak lagi secara eksplisit dimaksudkan untuk mengislamkan umat non muslim. Lebih dari itu, pendekatan dakwah multikultural menekankan agar target dakwah lebih diarahkan pada pemberdayaan kualitas umat dalam ranah internal, dan kerja sama serta dialog antar-agama dan budaya dalam ranah eksternal. Berbeda dengan pendekatan konvensional, pendekatan dakwah multikultural, seperti dinyatakan menilai fenomena konversi non muslim menjadi muslim adalah efek samping dari tujuan dakwah, dan bukan tujuan utama dari dakwah itu sendiri.

Kedua, dalam ranah kebijakan publik dan politik, dakwah multikultural menggagas ide tentang kesetaraan hak-hak warga negara (civil right), termasuk hak-hak kelompok minoritas. Tujuan dari program dakwah ini, terutama dimaksudkan agar seluruh kelompok etnis dan keyakinan mendapat pengakuan legal dari negara dari satu aspek, dan bebasnya penindasan atas nama dominasi mayoritas dari aspek yang lain. Untuk kepentingan ini pula, pendekatan dakwah multikultural berusaha memberi dukungan moral dan legislatif atas budaya politik demokrasi. Demikian itu, karena budaya politik demokrasi—terlepas dari kekurangannya—sampai saat ini dinilai sebagai yang paling mengakomodasi ide-ide egalitarianisme hak sipil dan kelompok minoritas dalam masyarakat multikultural. Melalui budaya demokrasi ini, dakwah multikultural berusaha agar kebijakan atau produk politik yang bias etno-religius dapat dieliminasi dan digantikan dengan kebijakan-kebijakan politik yang ramah dan peka terhadap keragaman etnis dan keyakinan masyarakat.

Ketiga, dalam ranah sosial, dakwah multikultural memilih untuk mengambil pendekatan kultural ketimbang harakah (salafi jahidy). Seperti telah disinggung, bahwa pendekatan multikultural sejatinya merupakan kelanjutan dari pendekatan dakwah kultural dengan perbedaan pada tingkat keragaman dan pluralitasnya. Dalam masyarakat multikultural, sepanjang terbebas dari kepentingan politik, keragaman keyakinan dan budaya itu sesungguhnya merupakan fakta yang dapat diterima oleh semua pihak. Adapun konflik yang sering terjadi antar-keyakinan dan agama, sejatinya adalah efek negatif dari perebutan kepentingan dalam ranah politik.

Keempat, dalam konteks pergaulan global, dakwah multikultural menggagas ide dialog antar-budaya dan keyakinan (intercultur-faith understanding). Dalam merespons fenomena globalisasi yang sedikit demi sedikit menghapus sekat-sekat antar-budaya dan agama sekarang ini, dakwah multikultural, seperti diusulkan Mulkan, merasa perlu membangun “etika global” yang digali dari sumber etika kemanusiaan universal yang terdapat dalam seluruh ajaran agama. Untuk tujuan tersebut, pendekatan dakwah multikultural melalui agendanya, antara lain dengan menafsir ulang sejumlah teks-teks keagamaan yang bias eksklusivisme, misalnya dengan metode hermeneutika.

Kelima, terkait dengan program seperti ini dalam poin keempat, para penggagas dakwah multikultural, merasa perlu untuk menyegarkan kembali pehamaman doktrindoktrin Islam klasik, dengan cara melakukan reinterpretasi dan rekonstruksi paham Islam, sesuai dengan perkembangan masyarakat global-multikultural. Seperti telah disinggung, doktrin-doktrin Islam klasik seperti terkodifikasi dalam kitab-kitab yang sampai kepada kita sekarang ini adalah sebuah penafsiran Islam, dan bukan Islam itu sendiri. Karena ini, ia tidak tertutup tetapi terbuka untuk dikritisi dan ditafsir ulang. Penafsiran baru ajaran Islam itu harus berimbang, berpijak dari orisinalitas tradisi di satu pihak, tetapi harus terbuka kepada ide-ide perkembangan keilmuan kontemporer di pihak lain.

 

 

D.Tujuan,Fungsi dan Peranan Dakwah Dalam Komunikasi Antar Budaya

1.Tujuan Komunikasi Antar Budaya.

Komunikasi antarbudaya terjadi bertujuan untuk mengurangi tingkat ketidak pastian. Seperti halnya ketika ada dua individu yang sedang berkomunikasi, namun kedua individu tersebut menggunakan bahasa yang berbeda-beda karena kebudayaan yang berbeda.

Sehingga, komunikasi antarbudaya inilah yang akan berperan sebagai alat untuk mengurangi tingkat keidakpastian logika maupun definisi dari topik yang sedang dibicarakan. Bahkan, komunikasi antarbudaya pun juga bertujuan sebagai alat efektifitas komunikasi. Agar informasi yang disampaikan itu dapat dimengerti secara efektif, maka diperlukan adanya komunikasi antarbudaya ini.

2.Fungsi Komunikasi Antar Budaya

1. Fungsi Pribadi Fungsi pribadi komunikasi antar budaya adalah fungsi-fungsi komunikasi anatar budaya yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang bersumber dari seorang individu.

            a. Menyatakan Identitas Sosial Dalam proses komunikasi antarbudaya terdapat beberapa perilaku komunikasi individu yang digunakan untuk menyatakan identitas sosial.

            b. Menyatakan intergrasi social Inti konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antarpribadi, antarkelompok namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur. Perlu dipahami bahwa salah satu tujuan komunikasi adalah memberikan makna yang sama atas pesan yang dibagi antara komunikator dan komunikan.

            c. Menambah pengetahuan Seringkali komunikasi antarbudaya menambah pengetahuan bersama dan saling mempelajari kebudayaan masing-masing.

2. Fungsi Sosial

 a. Pengawasan Fungsi sosial yang pertama adalah pengawasan. Praktek komunikasi antarbudaya di antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan "perkembangan" tentang lingkungan. Fungsi ini lebih banyak dilakukan oleh media massa yang menyebarluaskan secara rutin perkembangan peristiwa yang terjadi disekitar kita meskipun peristiwa itu terjadi dalam sebuah konteks kebudayaan yang berbeda.

 b. Menjembatani Dalam proses komunikasi antarbudaya, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka. Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama. Fungsi ini dijalankan pula oleh pelbagai konteks komunikasi termasuk komunikasi massa.

c. Sosialisasi Nilai Fungsi sosialisasi merupakan fungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain.

d. Menghibur Fungsi menghibur juga sering tampil dalam proses komunikasi antarbudaya. Misalnya menonton tarian dari kebudayaan lain. Hiburan tersebut termasuk dalam kategori hiburan antarbudaya.

3.Peranan Dakwah Dalam Komunikasi Antar Budaya

Dakwah pada umumnya yaitu penyampaian pesan dari da‟i kepada mad‟u dengan menggunakan berbagai macam media dan metode agar tercapai tujuan dakwah. Akan tetapi, yang membedakan pembahasan dakwah disini, dakwah yang berasal dari latar belakang yang berbeda misalnya perbedaan budaya antara da‟i dan mad‟u. Dakwah ini disebut dengan dakwah lintas budaya. Dakwah lintas budaya merupakan sebuah proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antara da‟i dan mad‟u. 37 Dalam dakwah lintas budaya, keragaman merupakan tantangan bagi da‟i supaya mampu meramu pesan-pesan dakwah yang lebih bijaksana dengan mempertimbangkan kondisi positif budaya mad‟u termasuk memperhatikan media dan metode yang dianggap bisa mendekatkan antara da‟i dan mad‟u. Perbedaan bahasa, budaya, dan lingkungan tempat tinggal bisa menjadi permasalahan yang signifikan dalam proses dakwah.

D.Dakwah dalam Komunikasi Antar Etnik,Ras dan Bangsa.

Komunikasi antar budaya menurut (Mulyana & Rakhmat, 2006:11) adalah sebagai komunikasi yang terjadi diantara orang-orang yang berbeda agama,bangsa,ras,bahasa,tingkat pendidikan,status social bahkan jenis kelamin. Pendapat serupa dikemukakan oleh Tubss dan Moss (1996) dalam buku (Sihabudin, 2011:13) yang menjelaskan Komunikasi antarbudaya terjadi bila pengirim pesan adalah angota dari suatu budaya dan penerima pesannya adalah anggota dari suatu budaya lain. Komunikasi antarbudaya merupakan komunikasi antar orang-orang yang berbeda budaya baik etnik,ras,agama maupun perbedaan sosioekonomi. Menurut Andera L. Rich dalam Liliweri, (2002:12) mengatakan bahwa komunikasi antara orang-orang yang berbeda kebudayaannya, misalnya antar suku bangsa, antar etnis dan ras, serta antar kelas sosial. Definisi komunikasi antar budaya lain nya menurut Menurut (Samovar, 2010:2) terdapat sejumlah faktor yang membuat kajian komunikasi antarbudaya semakin penting antara lain

1) Globasasi

2) Konflik

3) Kompetisi terhadap sumber daya alam

4) masalah lingkungan hidup

5) masalah isu kesehatan dunia

6) pergeseran populasi dunia

 Dari penjabaran komunikasi antar budaya diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi antar budaya diartikan sebagai komunikasi yang terjadi diantara orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda dan 11 akibatnya interaksi dan komunikasi yang sedang dilakukan itu membutuhkan tingkat keamanan dan sopan santun tertentu, serta pengalaman tentang sebuah atau lebih aspek tertentu terhadap lawan bicara.

E.Dakwah Dalam Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya.

1.Komunikasi Lintas Budaya

Komunikasi lintas budaya adalah proses pengalihan pesan yang dilakukan seorang melalui saluran tertentu kepada orang lain yang keduanya berasal dari latar belakang budaya yang berbeda dan menghasilkan efek tertentu.9 Jadi yang dimaksud komunikasi lintas budaya adalah sebuah proses pembentukan makna diantara dua orang atau lebih yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Misalnya, komunikasi yang terjadi antara mahasiswa Patani dengan mahasiswa Indonesia.[6]

2.Pola Komunikasi antar budaya

Pengertian pola komunikasi Pola komunikasi merupakan serangkaian dua kata, karna keduanya mempunyai keterkaitan makna sehingga mendukung akan makna lainnya. Agar lebih jelasnya dua kata tersebut akan diuraikan tentang penjelasannya masing masing. Kata “pola” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artinya bentuk atau sistem, cara atau bentuk (struktur) yang tepat, yang mana pola dapat dikatakan contoh atau cetakan.[7] Pola juga dapat diartikan bentuk atau cara untuk menunjukan suatu objek yang mengandung kompleksitas proses didalamnya dan hubungan antar unsur pendukungnya.[8]Sedangkan istilah komunikasi berasal dari bahasa latin “communicatos” yang berarti berbagi atau menjadi milik bersama. Kata sifatnya communis yang bermakna umum atau bersama sama.[9]

Dengan demikian dapat diuraukan bahwa proses komunikasi tersebut dapat dikatagorikan pola komunikasi seperti berikut:

a. Pola komunikasi primer Pola komunikasi primer merupakan suatu proses penyampaian pikiran oleh komunikator kepada komunikasi dengan menggunakan suatu lambang sebagai media maupun saluran, baik secara verbal maupun non verbal.[10] Proses komunikasi primer menggunakan lambang bahasa yaitu proses komunikasi yang paling banyak digunakan, karna bahasa mampu mengungkapkan pikiran komunikator kepada komunikan secara baik.

b. Pola komunikasi sekunder Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.[11]Komunikator menggunakan kedua media ini karna komunikan yang dijadikan sasaran komunikasinya jauh tempatnya atau banyak jumlahnya, atau keduaya jauh dan banyak. Komunikasi dalam proses secara sekunder ini senakin lama semakin efektif dan efisien karna didukung oleh teknologi komunikasi yang semakin canggih, yang ditupang pula oleh teknologi tenologi yang bukan tenologi komunikasi. [12]

c. Pola komunikasi linear Istilah linear mengandung makna lurus. Jadi proses linear berarti perjalanan dari suatu titik ketitik yang lain secara lurus. Dalam konteks komunikasi, proses liniar adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan sebagai titik terminal. Komunikasi linear ini berlangsung dengan baik dalam situasi komunikasi tatap muka (face to face comunikation) maupun dalam situasi bermedia (mediated communication). [13]

d. Pola komunikasi silkular Silkular sebagai terjemah dari perkataan “cilcular” secara harfiah berarti bulat, bundar dan keliling sebagai lawan dari kata linear tadi yang bermakna lurus. Dalam konteks komunikasi yang dimaksud dengan proses komunikasi silkular adalah terjadinya feedback atau umpan balik, yaitu terjadinya arus dari komunikan kepada komuniator. Oleh karna itu ada kalanya feedback tersebut mengalir dari komunikan kepada komunikator itu adalah “response” atau tanggapan komunikan terhadap pesan yang iya terima dari komunikator.[14]

F.Komunikasi Lintas Budaya verbal dan non-verbal

komunikasi adalah suatu proses ketika seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain.

Komunikasi dibagi menjadi 2 jenis, yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. Komunikasi verbal merupakan komunikasi yang dilakukan secara lisan maupun tertulis, sedangkan komunikasi non verbal adalah jenis komunikasi yang tidak menggunakan kata-kata, tetapi melakukannya dengan menggunakan ekspresi wajah, gerakan tangan, intonasi suara dan kecepatan berbicara.

Komunikasi lintas budaya atau cross cultural communication adalah bidang studi komunikasi yang memandang manusia yang mempunyai latar belakang budaya yang berbeda dalam berkomunikasi. Komunikasi lintas budaya adalah studi yang berakar dari studi antropologi budaya. Titik berat komunikasi lintas budaya adalah proses komunikasi yang terjadi dalam berbagai macam budaya yang berbeda. Komunikasi lintas budaya merupakan “pintu gerbang” agar dapat memahami komunikasi antar budaya atau intercultural communication.

Berikut contoh komunikasi verbal:

1.Dakwah "ajakan" adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan garis aqidah syari'at dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da'a yad'u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan. Kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata "Ilmu" dan kata "Islam", sehingga menjadi "Ilmu dakwah" dan Dakwah Islam" atau ad-dakwah al-Islamiyah.

2.Pembinaan keterampilan sebagai salah satu program pembinaan dikategorikan ke dalam ruang lingkup pembinaan narapidana adalah untuk membuat narapidana dapat bergaul dengan narapidana lain selama menjalani keterampilan dan juga sebagai bekal narapidana dalam proses reintegrasi dengan masyarakat.

3.Memperingati hari besar Islam,memperingati hari hari besar islam merupakan kewajiban kita sebagai seorang muslim.

4.pembelajaran fiqih, proses belajar untuk membekali siswa agar dapat mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum islam secara terperinci dan menyeluruh, baik berupa dalil aqli atau naqli.

Komunikasi verbal dan non verbal,komunikasi verbal adalah bentuk komunikasi dengan menggunakan simbol-simbol verbal yakni penyampaian melalui bahasa lisan maupun tulisan.contoh komunikasi verbal adalah berbicara melalui telepon,membaca majalah,membaca koran,menonton televisi.Komunikasi non verbal adalah bentuk komunikasi yang bentuk penyampaiannya bukan melalui lisan dan tulisan contohnya gerakan mata,sentuhan,bahasa tubuh dll.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] M. Munir & Wahyu Ilahi, Manajemen Dakwah (Jakarta: Prenada Group, 2006), hal. 17.

[2] Tilaar, Kaleidoskop Pendidikan Nasional (Jakarta: Kompas, 2012), hal. 919-20.

[3] Acep, Aripudin, Dakwah Antarbudaya, h.25

[4] Zaprulkhan,”Dakwah multikultural”. Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan Vol. 8, no. 1 (2017), pp. 160-177.

[5] Ibid,hal 171-174.

[6] Ully Kurniawati, Skripsi: “Komunikasi Lintas Budaya Mahasiswa Patani Angkatan 2017 Di Iain Purwokerto” (Purwokerto:Iain Purwokerto,2018),hal 6-7.

[7] Depaertemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar bahasa Indonesia (Jakarta;Balai Pustaka, 1996), h.778.

[8] Wirianto, pengantar ilmu komunikasi (Jakarta; Gramedia,2004), h.9.

[9] Marhaeni Fajar, ilmu komunikasi & praktik (Yogyakarta; Graha ilmu,2009), h.31.

[10] Ibid, h.31

[11] Dedy Mulyana, ilmu komunikasi suatu pengantar(bandung: PT Remaja Rosdakarya,2010), h. 260.

[12] Ibid, h.261.

[13] Ibid.h.38

[14] Ibid, h.39

Komentar

Postingan populer dari blog ini